Mendengar pertanyaan pria itu mengenai Lynx, Sherly tersenyum tipis. "Dia pasti akan marah. Tapi dia tidak akan marah kepada kita. Kamu tahu kenapa?" Kata Sherly dengan wajah terlihat licik dan kejam.

Pria itu berpikir sejenak, berusaha memahami maksud perkataan Sherly. Namun akhirnya dia menggelengkan kepalanya karena tidak mengetahui alasannya.

"Kejadian ini hanya aku dan kamu yang mengetahuinya." Kata Sherly sambil menunjuk pria itu dengan jarinya.

"Selama kamu dan aku tidak bicara. Siapa yang tahu mengenai kejadian ini. Karena itu, kamu harus tutup mulut dan jangan biarkan satu orangpun mengetahui tentang hal ini. Kamu tentu tidak mau aku dilukai orang lainkan?" Lanjutnya dengan nada manja.

"Tidak! Aku tidak mau kamu terluka. Aku pasti akan menjaga rahasia ini rapat-rapat dan tidak akan membiarkan siapapun mengetahuinya." Balas pria itu dengan cepat.

"Bagus, aku memang tidak salah memilihmu." Kata Sherly sambil bersikap genit agar pria itu semakin tergoda dengannya.

"Aku juga akan mencari cara untuk menutup mulutmu selamanya setelah ini selesai." Batin Sherly. Dia tidak ingin mengambil resiko ada yang mengetahui perbuatannya dan menggagalkan rencananya mendapatkan Lynx. "Rahasia tidak akan menjadi rahasia lagi jika ada orang lain yang tahu." Kata Sherly didalam hati sambil tersenyum licik.

Sementara itu, seorang penduduk yang keluar dari rumahnya karena mendengar keributan, secara tidak sengaja melihat beberapa sosok mencurigakan sedang menggendong benda besar dari kejauhan menuju keluar perkampungan. Setelah berpikir sejenak, penduduk ini merasa yakin bahwa salah satu sosok yang dilihatnya adalah Sherly. Penduduk itu yakin ada sesuatu yang salah karena Shery dan seorang pria terlihat membawa sesuatu yang besar seperti manusia. Penduduk itu lalu diam-diam segera melapor ke Karim.

“Karim! Aku melihat Sherly dan seorang pria mengangkat seseorang keluar dari perkampungan!” lapornya dengan tergesa-gesa.

Penduduk ini merasa lega karena melihat Karim masih belum tidur dan sedang berbicara santai berdua dengan adiknya, Aliah.

Karim langsung waspada. “Apa? Ke mana mereka pergi?”

Penduduk itu menunjukkan arah yang dituju Sherly.

"Mungkinkah Leena?" Batin karim.

Selama ini, Karim sudah beberapa kali melihat Sherly yang berusaha mencelakai Leena, dan bukan rahasia lagi jika Leena dan Sherly sering bertengkar mulut. Namun karena tidak ada bukti, Karim hanya mengawasi mereka dan memastikan keselamatan Leena sesuai pesan Lynx sebelum meninggalkan suku Sinto.

"Aliah, tunggulah disini. Kakak akan segera kembali." Karim berpesan kepada adiknya yang duduk di sebelahnya saat penduduk itu datang menghampiri.

Tanpa berpikir panjang, Karim mengambil tombaknya dan berlari ke arah batas perkampungan bersama penduduk tersebut.

"Karim, penjaga saat ini juga sedang melawan makhluk mutasi yang selalu menyerang kampung kita setiap malam di beberapa hari ini." Kata penduduk tersebut sambil berlari mengikuti Karim.

Karim menghela napas, dia harus mengambil keputusan segera antara mengejar Sherly atau menolong para prajurit yang sedang bertarung melawan mahkluk mutasi.

Ketika semakin mendekati batas perkampungan, Karim mendengar suara penjaga yang masih bertarung. "Bantulah mereka, cari bantuan segera. Aku akan mengejar Sherly sendiri." Katanya kepada penduduk yang mengikutinya.

"Apa kamu yakin? Sangat berbahaya keluar di malam hari seperti ini sendirian." Kata penduduk tersebut.

"Tidak ada waktu, segera lakukan yang ku minta! Cari bantuan untuk menolong mereka." Kata Karim sambil mempercepat larinya.

Penduduk itu segera berbalik dan mencari bantuan untuk membantu penjaga menghadapi makhluk mutasi tersebut.

Di kegelapan malam, Karim berusaha mencari petunjuk keberadaan Sherly. Gelapnya malam dan rasa panik membuat Karim agak kesulitan mencari jejak. Sementara itu suara pertarungan penjaga dengan makhluk mutasi masih terdengar jelas.

Setelah beberapa menit mencari, Karim berhasil menemukan jejak yang baru di lewati. Karim mengikuti dan akhirnya menemukan Leena yang diikat di sebuah pohon, tubuhnya terlihat lemah.

“Leena!” teriak Karim.

Namun, sebelum dia bisa mendekat, Sherly dan pria Sinto itu muncul dari balik semak-semak.

“Kau lagi, Karim,” kata Sherly dengan nada mengejek. “Kenapa kau selalu ada di mana-mana?”

“Kau gila, Sherly!” Karim membentak. “Lepaskan Leena sekarang juga, atau aku tidak akan segan-segan menghentikanmu!”

"Melepaskannya? Tidak semudah itu Karim. Dia sudah menghancurkan rencanaku berkali-kali." Kata Sherly sambil tertawa kasar.

"Hajar dia!" Teriak Sherly kepada pria tersebut.

"Kamu berani melawanku, Karta?" Bentak Karim setelah mengetahui sosok pria yang bersama Sherly.

Karta bergerak maju ragu-ragu dengan tombak di tangan, dia tidak ingin melawan Karim namun dia merasa tidak punya pilihan lain.

"Seharusnya kamu tidak ikut campur Karim!" bentak Karta sambil bergerak menyerang Karim. Dia berpikir harus segera melenyapkan Karim agar rahasia dia dan Sherly bisa tetap aman, tidak ada yang mengetahui.

Tetapi Karim, yang sering berlatih sejak berada di perkampungan baru, melawan Karta dengan sigap. Dalam pertarungan singkat, Karim berhasil melumpuhkan pria itu hingga terjatuh tidak mampu bangun, tetapi Sherly menyerangnya tiba-tiba dari belakang dengan batu. Karim jatuh berlutut, namun dengan cepat bangkit dan berhasil menghalangi Sherly yang mencoba kabur.

Leena yang setengah sadar mendengar Sherly berteriak, “Kau tidak pantas dihormati, Leena! Semua orang hanya berpura-pura menyukaimu! Lynx juga akan meninggalkanmu!”

"Sherly, seharusnya kita bekerjasama keluar dari tempat ini." Kata Leena lemas.

Tiba-tiba, suara raungan menggema. Makhluk mutasi besar yang tadi menyerang perkampungan kini muncul di tempat itu. Sayapnya yang lebar berdarah akibat luka dari penjaga, tetapi matanya masih bersinar merah penuh amarah.

Karta yang berusaha bangun setelah terkena serangan Karim, terlambat menyadari. Makhluk mutasi itu berada tepat di belakangnya, lalu makhluk mutasi menangkap pria itu dengan cakarnya dan membunuhnya dengan satu gigitan.

Karim segera berdiri di depan Leena, melindunginya dengan tombak. Sherly yang melihat kejadian itu merasa ketakutan dan mencoba melarikan diri, tetapi makhluk itu mengejarnya.

"Tolong aku! Karim tolong aku! Aku akan melakukan apapun yang kamu mau." Teriak Sherly ketakutan.

"Leena tolong aku! Maafkan aku!" teriaknya ketakutan sambil berlari tanpa memperdulikan arah.

Sherly menjerit ketakutan, tetapi makhluk itu menangkapnya dengan mudah dan membawanya ke udara.

Leena yang mulai sadar sepenuhnya menyaksikan pemandangan itu dengan ngeri. Dia berkata pelan, “Karim… Sherly…”

"Dia terkena batunya sendiri. Niat dia menyakitimu justru malah berbalik mencelakai dirinya sendiri." Kata Karim dengan nada marah.

Karim segera memotong tali yang mengikat Leena dan memapahnya keluar dari tempat itu.

“Kita harus kembali ke perkampungan sekarang,” kata Karim dengan nada tegas.

Leena hanya mengangguk lemah, matanya masih terpaku pada langit, tempat makhluk itu menghilang bersama Sherly.

Saat Karim membawa Leena kembali ke perkampungan. Para penduduk langsung menyambut mereka dengan cemas, dan penjaga segera mengobati luka-luka mereka.

"Aku baik-baik saja, hanya terkena racun pelemas saraf." Leena lalu menceritakan kejadian yang dialaminya, membuat semua orang merasa ngeri.

"Terimakasih Karim, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak datang menolongku." Kata Leena dengan tulus.

"Ini sudah tugasku. Lynx memintaku untuk menjagamu hingga dia kembali." Jawab Karim.

"Aku tidak menduga kalau kak Sherly akan bersikap sejahat itu kepada kak Leena." Kata Aliah, yang juga ikut menyambut kedatangan Karim dan Leena.

"Karim, menurutmu apakah Sherly masih hidup?" Tanya Leena tiba-tiba. Meskipun Sherly selalu jahat terhadapnya, namun Leena masih merasa tidak seharusnya Sherly mengalami nasib seperti itu. Karena bagaimanapun, Sherly sama seperti dirinya, pendatang di pulau ini.

"Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua. " Kata kepala suku Sinto, Maret.

"Kepercayaan terhadap teman, harus selalu dijaga dan diperhatikan. Jangan biarkan sesuatu hal yang jahat merusak persahabatan dan persatuan kita." Kata Maret mengingatkan.

Dengan kejadian malam itu, Warga Sinto semakin sadar bahwa ancaman bukan hanya dari makhluk mutasi, tetapi juga dapat datang dari orang di sekitar mereka, jika mereka tidak bersatu. Dan makhluk mutasi bukan hanya ancaman biasa, tetapi juga bisa menghancurkan siapa saja yang mereka anggap lemah. Suasana di perkampungan semakin tegang, dan mereka tahu bahwa langkah berikutnya harus diambil dengan hati-hati.

